Thursday, September 08, 2005

Menyiapkan Tiket untuk Universitas Negeri: Purdi menyulap sebuah bimbingan tes menjadi induk dari 13 perusahaan

Oleh Hendrika Yunapritta, R. Kristiawan (Yogyakarta)

Kuliahnya tidak rampung. Tapi, dengan modal Rp 300.000, Purdi E. Chandra berhasil membangun Primagama menjadi bimbingan tes terbesar dengan omzet Rp 28 miliar per tahun. Kini, di bawah Primagama bernaung tak kurang dari 13 perusahaan.

Di mana calon mahasiswa dicetak? Salah satunya di Primagama. Sebab, tahun lalu, 50.000 peserta lembaga pendidikan tersebut diterima di universitas. Lewat program bimbingan tes, Primagama memberi siswa SLTA berbagai kiat mengerjakan soal-soal UMPTN secara praktis dan cepat. Program ini, yang dibuka sejak 17 tahun silam, ternyata banyak peminatnya. Tahun ini saja tercatat sekitar 70.000 pelajar mengikuti bimbingan tes di Primagama. Kendati tercatat sebagai penyuplai calon mahasiswa, belum diketahui berapa murid Primagama tahun ini yang bakal lolos saringan UMPTN, yang diumumkan Jumat pekan ini. Purdi E. Chandra sendiri, si penyelenggara bimbingan tes, tentu juga ingin tahu hasilnya. Sebab, hal itu menyangkut keuangan Primagama, yang kini memiliki 164 outlet di seluruh Indonesia. "Soalnya, hanya siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri saja yang membayar biaya kursus," kata Purdi. Seorang peserta bimbingan tes Primagama harus membayar Rp 400.000 per tahun. Bila gagal masuk perguruan yang dituju, seperti dikatakan Purdi, yang bersangkutan boleh mengulang dengan gratis. Lesnya berkembang maju, seiring dengan berhasilnya Purdi yang konon "meluluskan" 80% anak bimbingnya ke perguruan tinggi. Tahun lalu, omzet bimbingan tes yang mempunyai kekayaan sekitar ini Rp 30 miliar ini diperkirakan mencapai Rp 28 miliar. Itu baru dari Lembaga Pendidikan Primagama saja, belum dari usaha lainnya seperti Institut Manajemen dan Komputer, atau usaha kontraktor yang didirikannya tahun 1992. Sekarang usaha Purdi tercatat tersebar di tiga belas perusahaan, meliputi bidang usaha pendidikan, penerbit, percetakan, biro perjalanan, properti, dan bahkan restoran Padang. Perusahaan-perusahaan tersebut berada di bawah naungan induk perusahaan Primagama. Tidak ada yang menyangka kalau bimibingan tes Primagama itu dimulai dari sebuah ruangan kecil di Jalan Pierre Tendean di Wirobrajan, Yogyakarta. Waktu itu, tahun 1982, jumlah bimbingan tes memang belum sebanyak sekarang. Peminatnya juga tidak membludak. Namun, sesuai dengan sebutannya sebagai kota pelajar, Yogyakarta selalu menjadi serbuan ribuan lulusan SMA dari seluruh Indonesia. Tujuannya apa lagi kalau bukan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang merupakan universitas tertua di Indonesia, dan IKIP Negeri yang ada di sana. Tahun 1982, Purdi dan Herman Legowo memulai bimbingan tes ini dengan modal Rp 300.000. Modal sebanyak itu didapat dari hasil menodong beberapa temannya. Untungnya Purdi mendapatkan sebuah ruangan yang cukup luas dengan ongkos sewa Rp 30.000 per bulan. Ruangan tersebut terpaksa disekat menjadi dua, untuk kelas dan ruang administrasi. Setelah dilengkapi meja kursi, yang juga dipinjamnya dari teman-temannya, Purdi memulai usahanya. Belakangan, Herman Legowo meninggalkan Primagama dan memilih berkarier sebagai dosen FE UGM. Ketika pertama kali dibuka, bimbingan tes belum populer. Terpaksalah Purdi mengumpulkan sekitar 15 siswa kelas tiga SMA di kampung Wirobrajan. Mereka diberi kursus gratis, untuk promosi. Yang membayar ongkos cuma dua orang siswa dari luar Wirobrajan. Satu bulan menjelang Sipenmaru, barulah datang serombongan siswa dari Kudus yang tertarik pada Primagama. Purdi punya prinsip yang unik. Menurut dia, para pengajar di bimbingan tes harus kuliah di universitas negeri. "Bagaimana murid mau percaya, kalau mereka sendiri tak lulus UMPTN?" kata Purdi yang mengaku sempat berkeringat dingin pada awal-awal mengajar.

Di mana ada supermarket, di situ Primagama berdiri
Sebenarnya yang diincar oleh bimbingan tes seperti Primagama adalah rasa kurang percaya diri siswa menghadapi UMPTN. Soalnya, menurut Purdi, bekal dari sekolah kurang memantapkan siswa. Pasalnya, guru dan siswa terbebani oleh kurikulum yang dibuat pemerintah. "Akibatnya, pengajaran menjadi kurang pragmatis," kata Purdi yang pernah terpilih menjadi tentor favorit ini. Karena itulah Primagama mengambil semacam jalan pintas dalam mengerjakan soal UMPTN. Bentuk pengajarannya adalah latihan soal UMPTN tahun-tahun sebelumnya. Yang juga diberikan adalah kiat-kiat mengerjakan soal tipe tertentu dengan praktis dan cepat. "Malah ada soal yang langsung bisa dijawab tanpa selesai membaca," katanya. Kebanyakan lembaga bimbingan tes yang ada rontok di tengah jalan. Tak heran, itu karena manajemennya memakai gaya lembaga sosial, bahkan cuma mengisi waktu sebelum lulus kuliah. "Kebanyakan bubar setelah pengelolanya lulus kuliah," kata Purdi, pengagum berat Stephen Covey, D.J. Schwarz, Dale Carnegie, dan Bill Gates ini. Untung saja, hal ini tidak terjadi pada Primagama. Soalnya Purdi mendapat inspirasi dari Moelyono, seorang pengajar terkenal dari Jakarta. Moelyono menekankan pendekatan bisnis pada bimbingan tes. Cara yang kemudian diterapkan Purdi adalah memberikan jaminan bahwa siswa boleh kursus tanpa bayar di Primagama. Tapi, jika siswa diterima di universitas negeri, mereka harus melunasi ongkosnya. Metode begini ternyata cukup efektif. Walaupun banyak yang mengemplang, Purdi masih bernapas lega karena sebagian besar siswanya selalu diterima di universitas negeri. Bersamaan dengan itu, Purdi juga belajar mengenai manajemen pemasaran dan sumber daya manusia. Dirinya ingin mengelola bimbingan tes ini secara profesional. Tahun 1985, Primagama mulai membuka program bimbingan belajar untuk siswa SD dan SMP. Pada tahun yang sama, Purdi mulai membuka cabang di Magelang. Dari sana pelan-pelan Purdi mulai membangun kerajaan bisnisnya. Saat ini Primagama telah memiliki 164 bimbingan tes di 64 kota, tersebar di 14 provinsi di Indonesia. Purdi menargetkan, tahun 2008 nanti bimbingan tes Primaga sudah berdiri di seluruh provinsi dan kabupaten di Indonesia. "Pedoman yang saya pakai adalah pedoman supermarket," kata Purdi. Maksudnya, di mana ada supermarket, di situ pulalah Primagama siap berdiri. "Ini berhubungan dengan daya beli masyarakat" kata bendahara DPW PKB DIY, yang menjadi caleg dari Yogyakarta ini. Maklum saja, sasaran Primagama memang golongan menengah ke atas.

Bill Gates dari Yogyakarta
Ada sebuah foto yang memperlihatkan awal mula pendirian Lembaga Pendidikan Primagama tahun 1982. Ruangan sempit dengan meja kursi pinjaman, plus senyum percaya diri sang direkturnya yang memakai kaos oblong dan sepatu kets. "Saya selalu tertawa melihat foto itu," kata Purdi E. Chandra. Pria kelahiran 40 tahun lalu ini tentu tak menyangka bisnisnya bakal jadi sebesar sekarang. Purdi lahir di Lampung dari sebuah keluarga transmigran sederhana. Ayahnya seorang lurah dan ibunya berdagang kain di pasar. Purdi hijrah ke Yogyakarta untuk kuliah di Teknik Elektro UGM, tahun 1978. Dasar Purdi suka bertualang, tahun berikutnya dia mengikuti tes di Fakultas Psikologi UGM dan diterima. Tahun 1980 mencoba daftar di Fakultas MIPA serta Bahasa Inggris IKIP Yogyakarta. Lagi-lagi diterima. Sayang, tak satu pun studinya di universitas rampung. Tapi dari sanalah muncul ide Purdi untuk membuat rumus-rumus menyelesaikan soal ujian masuk universitas negeri yang kabarnya sangat sulit itu. Lagi pula, kiriman uang kuliah dari orangtuanya juga makin seret. Purdi mengaku ada kemiripan nasibnya dengan nasib Bill Gates dari sisi akademik. Bill Gates, si penemu perangkat lunak Microsoft itu, memang tidak lulus Harvard tapi bisa menjadi manusia terkaya di dunia dan menjadi donatur terbesar untuk perguruan tinggi tersebut. Purdi juga tidak lulus kuliah, dan sukses sebagai pengusaha. "Menjadi pengusaha tak perlu pandai. Yang penting punya jiwa petualang," kata Purdi yang mengaku bermodal nekat dan mimpi. Menurut Purdi, seorang pengusaha harus berani mencoba, berani gagal, dan berani sukses. "Orang kadang takut sukses dan lebih memilih mengabdi pada orang lain," katanya. Purdi tampaknya telah memilih menjadi orang sukses. "Kalau orang berani sukses, ia pasti percaya diri," ujar ayah dua anak ini.

(diambil dari http://wirausahanet.tripod.com/id8.html)

No comments: